Tuesday, 13 September 2011

DUDUK ANTARA DUA SUJUD

¯`♥´¯) .♥.•¨`*♫ ✿ ܓ
´*.¸.•´♥ DOA DUDUK ANTARA 2 SUJUD
Pernah hayati? atau baca terlalu laju sampai tak sempat nak fahami maksudnya?
✔ Rabbighfirlii (Tuhanku, ampuni aku)
✔ Warhamnii (Rahmati aku)
✔ Wajburnii (Tutuplah aib-aibku)
✔ Warfa’nii (Angkatlah darjatku)
✔ Warzuqnii (Berilah aku rezeki)
✔ Wahdinii (Berilah aku petunjuk)
✔ Wa’Aafinii (Sihatkan aku)
✔ Wa’fuannii (Maafkan aku)
❢ Doa yang bermakna bagi seorang yang bertauhid~✿

Monday, 12 September 2011

KALIMAT YANG HAMPIR DI LUPAI

KALIMAT YANG HAMPIR DI LUPAI.......

by Mohd Alhaj on Monday, September 12, 2011 at 7:14am
Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang mulia di sisi Allah dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya walau sebanyak BESAR laut.

1. Mengucap Bismillah pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap Alhamdulillah pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap Astagfirullah jika lidah terselip perkataan yang tidak patut.
4. Mengucap Insya Allah jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.
5. Mengucap La haula wala kuwwata illa billah jika menghadapi sesuatu tak disukai dan tak diingini.
6. Mengucap inna lillahi wa inna ilaihi rajiun jika menghadapi dan menerima musibah.

7. Mengucap La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah sepanjang siang dan malam sehingga tak terpisah dari lidahnya dari tafsir hanafi, mudah-mudahan ingat, walau lambat-lambat mudah-mudahan selalu, walau sambil lalu mudah-mudahan jadi bisa, karena sudah biasa.
Share

PEREMPUAN YANG PALING MAHAL

Perempuan yang PALING mahal ialah : (jeng~jeng~) ^^

by Abdul Rashid on Saturday, September 10, 2011 at 7:21am
Perempuan yang PALING mahal ialah

Allah dan Rasul dihatinya
benci semua yg dibenci Allah dan Rasul,
suka semua yg disukai Allah dan Rasul
menjaga adab dan akhlaknya
tidak suka terlampau2 ber "so" sial
murah mas kahwinnya
menerima qadak dan qadar seadanya
tidak suka membantah
selalu tawaduk/merendah diri
merasakan dirinya belum sempurna
pandai menjaga hati orang lain
menjaga kehormatan dan maruahnya (menutup aurat)
suka menerima teguran
tidak mudah berputus asa
tidak melampau2 di dalam berhias (tabaruj)
sedikit makan dan minum
tidak suka makan benda2 yang busuk
jika berhutang budi,dia pasti membalasnya semula,
tidak suka memperalatkan orang lain,
tidak suka riak dan membangga diri
gembira ketika dipuji dan dihina
tidak suka berjanji atau bersumpah, takut2 tidak dapat menunaikannya
menganggap dialah insan yang paling hina berbanding orang lain
suka menunaikan permintaan org lain seadanya
pandai melayan tetamu sebaik2nya
suka melemparkan senyuman yang manis
sopan dan lembut di dalam tutur katanya
cintakan masjid dan surau walau tidak dpt hadir
kasih kepada orang yg ikut Allah dan Rasul
merasakan ilmu agamanya masih sedikit walaupun telah banyak
jika tidak mampu meninggalkan maksiat, maka dia banyak melakukan kebaikan
jika tidak mampu melakukan kebaikan , maka dia banyak meninggalkan maksiat
tidak suka berprasangka jahat kepada orang lain malah selalu berprasangka baik
TAKUT segala ibadatnya x diterima-NYA tp berHARAP agar ibadat diterima-NYA
bermurah hati, suka bersedekah, tidak kikir/kedekut/tangkai jering
tidak suka menunjuk2 dan bermegah2 tentang kecantikannya
pemalu apabila bercakap tetapi peramah orangnya
biarlah dirinya hina dimata masyarakat, tapi mulia disisi Allah
mahukan pasangan yang terbaik bknlah dr pandangannya tp dr pandangan Allah
apabila dia salah, dia mengakui kesalahan, cuma insan/hamba biasa
apabila dia betul, dia berkata benar dengan selembut2nya
apabila dia merasakan hati orang lain terguris, dia sukar untuk melupakannya
apabila hatinya terguris, dia cepat2 melupakannya
cintakan undang2 ciptaan Allah bukannya undang2 taughut (ciptaa

MEMBURU KEMUNCAK IMAN

Memburu Kemuncak Keimanan

by Pertubuhan IKRAM Malaysia on Friday, September 9, 2011 at 6:57pm
Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Iman adalah anugerah Allah yang paling mahal bagi seorang mukmin dan tidak semua manusia mendapat kesempatan untuk memperolehinya.

Oleh sebab itu, iman mestilah dipelihara dan dijaga sebaik mungkin. Jika ia rusak, apalagi hilang tercabut dari dalam diri seseorang, maka nilai kehidupannya akan menjadi kosong pada pandangan Allah swt walaupun di dunia ia boleh sahaja merasakan berbagai kenikmatan dan kesenangan hidup serta meraih kedudukan yang tinggi, namun di akhirat ia akan mendapat murka dan siksa dari Allah swt.

Allah swt menjelaskan :
“Sesungguhnya orang-orang kafir (tidak beriman dan mentauhidkan Allah), dari kalangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kalangan kaum musyrikin, mereka adalah di neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya, sedangkan mereka adalah makhluk yang terburuk.” (QS Al Bayyinah : 6)

Di zaman sekarang, ramai orang yang tidak menyedari harga atau nilai keimanan.
Samada disedari atau tidak, seseorang itu mudah merusak dan bahkan membuang imannya dari dalam diri hanya kerana berharap sedikit kenikmatan dunia.
Akhirnya ia :
  1. Menggadaikan iman dengan kufur.
  2. Menjual petunjuk dengan kesesatan.
  3. Memperdagangkan akhirat dengan dunia.
Pola hidup manusia seperti itu disebut oleh Allah swt sebagai orang yang menukar :
  1. Yang mahal dengan yang murah.
  2. Yang banyak dengan yang sedikit.
  3. Ampunan (syurga) dengan azab (neraka).
Allah swt menjelaskannya :

“Mereka itu adalah orang-orang yang membeli kesesatan dengan hidayah dan azab dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka!” (QS Al-Baqarah : 175)

Nikmat iman yang telah Allah anugerahkan kepada kita mesti kita syukuri. Caranya ialah dengan menjaganya baik-baik dalam diri kita. Walaupun keadaan iman itu boleh naik dan boleh turun, namun kita mesti berusaha secara maksima agar iman itu tetap kukuh dan kuat dalam lubuk hati kita.

Agar iman itu tetap kukuh dalam diri, kita mesti memahami betapa besarnya nilai iman itu. Orang-orang yang sudah menyedari nilai iman, pasti ia akan menjaganya dengan baik dan maksima, sehingga ia merasakan kelazatan dan kemanisan.

Kalau sudah dirasakan kelazatan dan kemanisan iman, maka saat itulah seorang Mukmin sampai ke puncak keimanannya.
Setelah itu, ia akan merasakan betapa besarnya peranan iman dalam kehidupan, samada ketika mendapat kebaikan dan kemudahan hidup atau saat menghadapi berbagai kesulitan hidup.

Orang yang sudah sampai ke puncak keimanan, warna kehidupan yang beragam ini ia rasakan sama sahaja kerana jiwanya stabil, samada dalam mendapatkan berbagai nikmat atau saat menghadapi berbagai cubaan dan kesulitan.

Saat ia mendapat kebaikan, ia dengan mudah dapat bersyukur. Begitu pula saat menghadapi berbagai persoalan dan kesulitan hidup ia mampu melewati dan menjalaninya dengan penuh kesabaran.

Orang yang sudah mencapai puncak keimanan kepada Allah :
  1. Tidak akan pernah merasakan beratnya perintah Allah walau sebesar dan seberat apapun perintah itu.
  2. Tidak akan pernah ragu sedikitpun meninggalkan larangan Allah, sekecil apapun larangan itu.
  3. Tidak akan pernah ragu sedikitpun pada janji Allah, samada janji di dunia ataupun janji akhiratNya.
  4. Tidak akan pernah mengubah orientasi hidupnya kepada selain Allah walau hanya seinci.
Solat, ibadah, hidup dan matinya ia persembahkan hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain, walaupun ia diberi kesempatan memperolehi dunia dan seisinya.

Seluruh perkatan, perbuatan dan aktiviti hidupnya hanya dengan niat untuk Allah, berdasarkan petunjuk Allah dan RasulNya; sedikitpun tidak ada rasa berat dan kesal di dalam dirinya dan ia pasrah dan menyerah bulat terhadap semua keputusan dan pilihan Allah dan Rasulnya.

Itulah sikap hidup orang yang sudah sampai kepada puncak keimanannya kepada Allah seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an :
“Maka demi Rabb (Tuhan pencipta)mu, mereka belum beriman sampai mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim yang memutuskan semua perkara yang muncul di antara mereka. Kemudian mereka tidak memdapatkan keberatan sedikitpun dalam diri mereka atas keputusan tersebut dan mereka menyerahkannya secara total.” (QS An Nisaa’ : 65)

Orang yang sampai ke puncak keimanan, tidak tergoda sedikitpun oleh gemerlapan kehidupan dunia walaupun ditawarkan padanya dunia dan seisinya, kerana ia sedar betul orientasi hidupnya adalah kemenangan akhirat yang maha hebat yang dijanjikan Allah kepadanya :
“Itulah batas-batas hukum Allah. Dan siapa yang mentaati Allah dan RasulNya, maka Dia akan memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir dari bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan yang demikian itulah kemenangan yang amat besar (tanpa batas).” (QS An Nisaa’ : 13)

Jika demikian halnya bagi orang yang sudah merasakan kelazatan dan kemanisan iman sebagai bukti ia sampai ke puncak keimanan, maka timbul satu pertanyaan :

Bagaimanakah cara untuk merasakan kelazatan dan kemanisan iman itu?

Jawabannya ialah seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw :
“Ada tiga perkara apabila ketiganya ada dalam diri seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman. 1) Bahwa Allah dan rasulNya lebih ia cintai dari selain keduanya. 2) Dia mencintai seseorang hanya kerana Allah Ta’ala. Dan 3) Dia benci untuk kembali kepada kekufuran (samada dari segi i’tiqad, hukum, akhlak, ibadah dan sebagainya) sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Bukhari)

Dari hadis di atas dapat kita simpulkan seperti berikut :

PERTAMA
Allah swt dan Rasulullah saw mesti lebih kita cintai dari diri kita sendiri dan bahkan dari dunia dan seisinya.
Caranya tidak lain kecuali dengan mentaati semua perintah dan menjauhi semua larangan Allah dan RasulNya. Kita lakukan semua itu hanya dengan niat ikhlas kepada Allah dan ‘ittiba’’ (mengikuti) Rasulullah. Mentaati Allah dan RasulNya adalah inti ibadah kepada Allah.

KEDUA
Membangun hubungan, komunikasi dan kerjasama dengan saudara seiman mestilah berlandaskan  iman kepada Allah dan di atas cinta kerana Allah swt dan bukan untuk mendapatkan kepentingan duniawi, melainkan mendapatkan ridha dan cinta Allah.

Inilah hubungan yang lurus dan abadi dan ia akan berkekalan sampai ke akhirat nanti sebagaimana firman Allah swt :
“Orang-orang yang bersahabat dekat (di dunia) pada hari itu (Qiamat) sebahagian mereka akan menjadi musuh bagi sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS Az-Zukhruf :  67)

KETIGA

Kita mesti membenci kekufuran walauapapun bentuknya samada :
  1. ‘Kufur i’tiqadi’ (kufur keyakinan dan keimanan).
  2. ‘Kufur tasyri’i’ (kufur sistem dan perundangan).
  3. ‘Kufur ta’abbudi’ (kufur dalam bentuk ibadah).
  4. ‘Kufur akhlaqi wa taqlidi’ (kufur dalam moral dan tradisi).
Masalah kebencian ini adalah urusan hati. Jika hati belum membenci kekufuran-kekufuran tersebut, sudah pasti hati kita belum dapat merasakan kelazatan dan kemanisan iman kerana antara kufur dan iman adalah dua perkara yang berbeza dan bertentangan.

Tidak mungkin hati kita boleh menerima atau mencintai keduanya. Hati kita akan memilih salah satu di antara keduanya.
Orang yang sudah merasakan kelazatan dan kemanisan iman, pasti dalam waktu yang bersamaan ia akan membenci kekufuran.

Ya Allah, peliharalah iman kami yang sudah tertanam di dalam jiwa kami sejak kelahiran kami dahulu. Kurniakanlah kepada kami kesempatan untuk merasakan manisnya iman dalam kehidupan ini sebelum kami dipanggil pulang untuk menghadapMu pada hari pembalasan nanti dan himpunkanlah kami di syurga Firdaus yang paling tinggi bersama RasulMu saw, para shiddiqin, syuhada’ dan solehin.

Ameen Ya Rabbal Alameen

Wan Ahmad Sanadi Wan Ali
Pengerusi JK Dakwah IKRAM Shah Alam

"UKHUWAH TERAS KEGEMILANGAN"
"IKRAM WADAH PERJUANGAN"
Kelebihan puasa sunat Syawal (Soal) PDF Print E-mail
Monday, 12 September 2011 06:12

SOALAN
Assalamualaikum Ustazah,
Saya ingin mengetahui kelebihan puasa syawal. Harap dapat dijelaskan beserta dalil sekali.
Terima kasih
Gadis Remaja, Johor.

Jawapan:
Ustazah Shahidah Sheikh Ahmad

 Terima kasih kepada Gadis Remaja yg bertanya.
Alhamdulillah, beberapa tahun kebelakangan ini kesedaran masyarakat remaja untuk berpuasa syawal semakin baik, dimana ramai antara remaja hari ini mengambil berat untuk berpuasa syawal demi merebut kelebihan yg dijanjikan Allah untuk kita selepas kita sempurnakan puasa Ramadan.
Di sini saya kemukakan kelebihan dan dalil-dalil yang diminta.
  1. 1) Seumpama puasa setahun penuh
Dari Abu Ayyub al-Anshari ra, Nabi saw bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر
“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR Imam Muslim).
Dalam Hadits lain disebutkan dari imam Ahmad dan an-Nasa’i  berkata: Nabi saw bersabda:
“Puasa Ramadhan ganjarannya sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” (Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam “Shahih” mereka)
Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan . Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh,) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan). Jadi seolah-olah jika seseorang melaksanakan puasa Syawal dan sebelumnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka dia seperti melaksanakan puasa setahun penuh. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah saw:
مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَة
((مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
“Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal]
Alangkah senang dan bahagianya kita, setelah mampu menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan dan diberikan kesempatan untuk menunaikan puasa 6 hari pada bulan Syawal, sehingga Allah menghitungnya seakan puasa dalam satu tahun penuh.
Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan dan inilah balasan kebaikan yang paling minima, namun mungkin ianya lebih banyak. Demikianlah nikmat yang luar biasa yang Allah berikan pada umat Islam.

2. Puasa syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib.
Yang dimaksudkan di sini bahwa puasa syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadhan sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib. Amalan sunnah seperti puasa Syawal nantinya akan menyempurnakan puasa Ramadhan yang seringkali ada kekurangan di sana-sini. Inilah yang dialami setiap orang dalam puasa Ramadhan, pasti ada kekurangan yang mesti disempurnakan dengan amalan sunnah.

3. Melakukan puasa syawal merupakan petanda Allah menerima puasa Ramadhan.
Jika Allah SWT menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan sholih selanjutnya. Jika Allah menerima amalan puasa Ramadhan, maka Dia akan tunjuki untuk melakukan amalan sholih lainnya, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal.
Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf:
مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”
Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf  lainnya, “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”

4. Melaksanakan puasa syawal adalah sebagai bentuk syukur pada Allah.
Yaitu nikmat ampunan dosa yang begitu banyak di bulan Ramadhan. Bukankah kita telah ketahui bahwa melalui amalan puasa dan shalat malam selama sebulan penuh adalah sebab datangnya ampunan Allah, begitu pula dengan amalan menghidupkan malam lailatul qadr di akhir-akhir bulan Ramadhan?!
Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.”
Nabi saw pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang banyak melakukan shalat malam. Ini semua beliau lakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan. Ketika Nabi saw ditanya oleh isteri tercinta beliau yaitu ‘Aisyah ra mengenai shalat malam yang banyak beliau lakukan, beliau pun mengatakan,
أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?”
Para salaf seringkali melakukan puasa di siang hari setelah di waktu malam mereka diberi taufik oleh Allah untuk melaksanakan shalat tahajud.
Ingatlah bahwa rasa syukur haruslah diwujudkan setiap saat dan bukan hanya sekali saja ketika mendapatkan nikmat. Namun setelah mendapatkan satu nikmat, kita perlu pada bentuk syukur yang selanjutnya.
Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Setiap nikmat Allah berupa nikmat agama maupun nikmat dunia pada seorang hamba, semua itu patutlah disyukuri. Kemudian taufik untuk bersyukur tersebut juga adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan bentuk syukur yang kedua. Kemudian taufik dari bentuk syukur yang kedua adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan syukur lainnya. Jadi, rasa syukur akan ada terus sehingga seorang hamba merasa tidak mampu untuk mensyukuri setiap nikmat. Ingatlah, syukur yang sebenarnya adalah apabila seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak mampu untuk bersyukur (secara sempurna).”

5. Melaksanakan puasa syawal menandakan bahwa ibadahnya berterusan, tidak bermusim.
Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadhan tidaklah berhenti setelah Ramadhan itu berakhir. Amalan tersebut seharusnya  berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan.
Sebagian manusia begitu bergembira dengan berakhirnya bulan Ramadhan karena mereka merasa berat ketika berpuasa dan merasa bosan ketika menjalaninya. Siapa yang memiliki perasaan semacam ini, maka dia terlihat tidak akan bersegera melaksanakan puasa lagi setelah Ramadhan karena kepenatan yang ia alami. Jadi, apabila seseorang segera melaksanakan puasa setelah hari raya, maka itu merupakan tanda bahwa ia begitu semangat untuk melaksanakan puasa, tidak merasa berat dan tidak ada rasa malas.
Ada sebagian orang yang hanya rajin ibadah dan shalat malam di bulan Ramadhan saja, lantas dikatakan kepada mereka,
بئس القوم لا يعرفون لله حقا إلا في شهر رمضان إن الصالح الذي يتعبد و يجتهد السنة كلها
“Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun.”
Ibadah bukan hanya di bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja.

Asy Syibliy pernah ditanya, “Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, “Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan sepanjang tahun dan bukan hanya di bulan Sya’ban saja. Kami  juga dapat mengatakan, “Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.” Maksudnya, beribadahlah secara berterusan sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja. Semoga Allah memberi taufik.

‘Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ‘Aisyah mengenai amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ‘Aisyah menjawab,
“Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinyu (ajeg).”
Cara melaksanakan puasa Syawal adalah:
1. Puasanya dilakukan selama enam hari.
2. Boleh dilaksanakan sehari setelah Idul Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.
3. Boleh dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan.
4. Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh. Dan ingatlah puasa Syawal adalah puasa sunnah sedangkan qodho’ Ramadhan adalah wajib. Sudah semestinya ibadah wajib lebih didahulukan daripada yang sunnah.
Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita untuk istiqomah dalam ketaatan hingga maut menjemput. Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga Allah menerima amalan kita semua di bulan Ramadhan dan memudahkan kita untuk menyempurnakannya dengan melakukan puasa Syawal.

Sekian.Wallahu ‘aklam.
Ust Shahidah

MENJADI MENANTU KESAYANGAN MENTUA

Menjadi menantu kesayangan mentua

by Pertubuhan IKRAM Malaysia on Sunday, September 11, 2011 at 7:33am
http://www.malaysiaharmoni.com

Perkahwinan bukan sahaja mengikat antara sepasang manusia yang bergelar suami dan isteri. Malah ia merupakan pertautan antara dua keluarga, mungkin juga dua bangsa atau dua negara. Justeru, apabila secara sah anda dinobatkan menjadi suami atau isteri, maka serentak dengan itu anda juga menjadi menantu kepada orang yang bergelar ayah dan ibu mentua.

Untuk menjamin kelangsungan sebuah perkahwinan, tidak cukup sekadar pandai menjaga hati, memadu kasih antara suami dan isteri sahaja. Sebaliknya anda juga harus tahu mengambil hati dan menagih kasih mentua.

Mentua adalah orang yang menjadi sebab kepada wujudnya pasangan anda. Merekalah yang bertanggungjawab membesar dan mendidiknya hingga menjadi manusia yang serasi sebagai pasangan untuk anda. Mereka mengenali pasangan anda jauh lebih dahulu daripada anda dan sayangnya mereka kepada pasangan anda tiada taranya.

Oleh itu jika anda ingin bahagia di sisi pasangan anda, disayangi oleh mentua dan disenangi oleh ahli keluarganya perkara-perkara berikut perlu difahami. Sebahagiannya apa yang wajib anda lakukan dan sebahagiannya apa yang mesti anda jauhi.

i. Janganlah anda mengharapkan cinta anda yang baru berputik itu akan menjadi saingan kepada kasihnya mentua anda kepada anaknya. Jangan sekali-kali anda cuba mengalihkan kasih sayang pasangan anda terhadap ibu dan bapanya.

Ingatlah perkahwinan tidak mengubah perintah Allah s.w.t. kepada setiap hamba-Nya. Dia telah berfirman (maksudnya):

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya engkau tidak menyembah melainkan kepada-Nya semata -mata dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu bapa. Jika salah seorang daripada mereka atau kedua-duanya sekali sampai kepada umur tua dalam jagaan dan peliharaanmu, maka janganlah engkau berkata kepada mereka (sebarang perkataan kasar) sekalipun perkataan "Ah" dan janganlah engkau menengking menyergah mereka, tetapi katakanlah kepada mereka perkataan yang mulia (yang bersopan santun). Dan hendaklah engkau merendah diri kepada kedua-duanya kerana belas kasihan dan kasih sayangmu dan doakanlah (untuk mereka, dengan berkata): Wahai Tuhanku, cucurilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil. Tuhan kamu lebih mengetahui akan apa yang ada di dalam hati kamu; kalaulah kamu orang-orang yang bertujuan baik mematuhi perintah-Nya, maka sesungguhnya dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.”
(Al-Isra’ 17: 23-25)

Maka bantulah dia, berilah dorongan kepadanya agar menjadi anak yang soleh, yang dirahmati dan diredhai Allah s.w.t. Dengan itu secara tidak langsung anda juga mendapat pahala kerana “orang yang mendorong ke arah kebaikan baginya pahala seperti orang yang melakukannya.” (Maksud hadis riwayat Muslim daripada ‘Uqbah bin ‘Amru)

ii. Anggaplah diri anda juga anak mereka dan mereka adalah ibu dan bapa anda. Sayangi dan hargailah mereka yang telah berjasa kepada anda. Mereka telah bersusah payah mempersiapkan seorang insan yang dapat memenuhi citarasa anda, walaupun tidak sepenuhnya, namun ia tetap mengisi tuntutan naluri anda. Allah s.w.t. berfirman (maksudnya):

“Dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaannya dan rahmat-Nya, bahawa Dia menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri daripada jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya dan dijadikan-Nya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan- keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang berfikir.”
(Ar-Rum 30: 21)

iii. Gembirakan hati mereka dengan akhlak dan budi bahasa. Mereka tidak mengharapkan anda menjadi manusia yang sempurna. Jangan malu untuk mengakui kelemahan diri. Misalnya jika anda menantu perempuan yang tidak pandai memasak, nyatakan terus terang kepada ibu mentua dan minta supaya dia ajarkan. Tindakan seperti ini akan akan membuat dia berasa gembira dan dihargai.

iv. Ketahui minat mereka dan cuba fahami apa yang mereka suka dan apa yang mereka tidak suka. Jika mentua anda minat berkebun, maka cuba-cubalah jenguk kebunnya dan bantu apa yang patut. Jika mereka minat menulis, bacalah tulisan mereka dan berilah pandangan anda tentang tulisan mereka sama ada setuju atau tidak. Mereka tidak perlukan pujian. Yang penting mereka mengetahui bahawa anda mengambil berat tentang diri mereka. Walau bagaimanapun jika mereka meminati perkara yang haram di sisi Islam, janganlah anda terikut-ikut pula. Jauhilah dengan cara berhikmah dan bijaksana.

v. Merendah diri dan berkhidmat kepada mereka. Merendah diri tidak bermakna menghina diri. Berkhidmat tidak bermakna menjadi hamba. Dalam hal ini Nabi s.a.w. adalah sebaik-baik contoh kita. Daripada al-Aswad bin Yazid r.a., katanya: Sayidatina Aisyah r.a. ditanya tentang apa yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. ketika baginda berada di rumah. Beliau menjawab: Baginda berkhidmat kepada keluarganya. (Al-Bukhari). Abu Hurairah melaporkan bahawa baginda bersabda (maksudnya): “Tiada merendah seseorang kerana Allah melainkan diangkatkan darjatnya oleh Allah s.w.t.” (Muslim)

Sebagai contoh, pada waktu makan bersama, jangan bangun ketika mereka sedang makan. Tunggulah mereka selesai dan bersihkanlah hidangan. Kalau terpaksa, mintalah izin sebelum bangun.

vi. Jangan lokek dan berkira dengan mentua terutama apabila mereka datang ke rumah anda atau anda berkunjung ke rumah mereka. Ingatlah! Mereka telah terlalu banyak berkorban untuk membesarkan pasangan anda.

vii. Doakan mentua setiap kali mendoakan kedua-dua ibu bapa anda. Katakanlah: “Ya Allah, ampunilah dosa kedua-dua ibu bapaku dan kedua-dua ibu bapa suami/isteriku dan rahmatilah mereka sebagaimana mereka mendidik kami pada waktu kami kecil.”

Ustazah Maznah Daud
Ketua Wanita
Pertubuhan IKRAM Malaysia (IKRAM)

"Ukhuwah Teras Kegemilangan"

[Disiarkan semula sempenan musim walimah]

Friday, 2 September 2011

BERCUTI DI KUANTAN

Kami bertolak dari  Lenggong ke Kuantan melalui jalan batang Kali,Genting Highland terus menuju Karak Highway. Anak sulong yang membawa kereta merasa serik melalui jaln tersebut.Nasib baik hujan renya2 saja.